Media Issues

Ini Dia, Potensi “Fintech” dalam Ekonomi Syariah

Ilustrasi dari www.pixabay.com [SHNet/Ist].

SHNet, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengangkat pembahasan mengenai potensi financial technology/fintech atau teknologi finansial dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Deputi Gubernur BI, Sugeng, menyatakan hal ini saat membuka seminar bertajuk Growing Demand for Fintech in Islamic Finance and Its Challenges, di Surabaya, Jumat (10/11).

“Peluang pengembangan Tekfin syariah memang dianggap cukup besar, seperti terlihat dari fenomena kemunculan Tekfin syariah yang telah terjadi di berbagai belahan dunia. Indonesia pun memiliki peluang penerapaan teknologi finansial syariah yang besar, yang dapat membawa berbagai manfaat.” Demikian disampaikan Sugeng dalam seminar yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Shari’a Economic Forum 2017 tersebut.

Menurutnya, seiring berkembangnya teknologi informasi, teknologi finansial berkembang pesat di seluruh dunia. Tekfin muncul dalam berbagai bentuk dan skema, termasuk Tekfin syariah yang mulai berkembang. Beberapa negara, seperti Dubai, Kanada, Singapura dan Malaysia, telah memiliki Tekfin syariah dalam berbagai bentuk, antara lain yang berfokus pada pemberian pinjaman.

Sugeng mengatakan, baik pengembangan teknologi finansial maupun pengembangan ekonomi syariah merupakan hal yang menjadi perhatian Indonesia saat ini. BI memandang bahwa penerapan teknologi finansial dalam skema syariah tetap perlu mengacu pada fokus pengembangan ekonomi Syariah di Indonesia.

“Dalam hal ini, beberapa hal perlu menjadi perhatian, yaitu penguatan aspek kelembagaan infrastruktur teknologi finansial syariah, penerapan teknologi finansial secara efisien dan tepat guna, serta sosialisasi dari para pelaku teknologi finansial ke lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia serta peningkatan pemahaman masyarakat pada umumnya,” kata Sugeng.

Banyak Bidang Usaha
Ia berpendapat, dari sisi aplikasinya, banyak bidang usaha yang berpotensi untuk disentuh teknologi finansial syariah, misalnya kemandirian pesantren berbasis teknologi. Dengan banyaknya produk-produk berkualitas yang dihasilkan oleh berbagai pesantren, teknologi finansial syariah dapat menyediakan platform kerja sama saling suplai hasil produk antar-pesantren.

“Di bidang lain pun, seperti wisata halal, potensi kehadiran teknologi finansial untuk memfasilitasi layanan pembayaran atau pemasaran juga sangat besar,” kata Sugeng.
Menurutnya, dalam menggali potensi teknologi finansial berbasis syariah di Indonesia, usaha seluruh pihak harus dikerahkan. Rambu-rambu syariah di area teknologi finansial, mulai dari akad, syarat, rukun, hukum, administrasi pajak, akuntansi, hingga audit, perlu diyakini dan dijaga dengan baik.

“Oleh karenanya, para akademisi, pakar fiqih, regulator, praktisi keuangan, dan pelaku start-up perlu duduk bersama dan bersinergi untuk terus melakukan kajian, pengembangan serta pengawasan terhadap aplikasi Fintech berbasis syariah, khususnya di Indonesia,” pungkas Sugeng. (whm/depkom.bi)